Allah Memilih Imam Syuhodo Untukku
Yaa...di Imam Syuhodo lah dulu para ustadz mendidikku sehingga menjadi diriku yang sekarang.
Entah mengapa aku bisa sampai di sana. Awalnya selepas SD yang juga SD Muhammadiyah, orang tuaku mengharapkan agar aku masuk pesantren, tapi qodarullah saat itu harapan itu hanyalah harapan semata yang belum bisa terwujud dengan adanya stempel santri pada keningku. Aku lebih memilih sekolah non pesantren.
Pesantren adalah tempat yang membosankan pikirku dahulu, segalanya serba aturan yang mengikat, hanya untuk sekedar keluar komplek pesantren pun harus izin. Intinya aku tidak suka lah. Padahal ketika lulus SD ada 2 temanku satu angkatan yang melanjutkan ke sebuah pesantren. Mendengar berita itupun hatiku bertanya-tanya, kok mau ya ?... kok betah ya ?...
Waktu terus berjalan hingga akhirnya ia menjadi saksi akan keadaanku di kemudian hari, aku melanjutkan di SMP Muhammadiyah di desaku. Awalnya orang tua dan keluarga juga sebenarnya tidak mengharapkan aku melanjutkan SMP di situ, namun bagaimana lagi. Kata orang tua, "yang akan menjalani adalah aku ya terserah yang melakukan''. Orang tua dan keluarga tidak berani memaksa aku harus sekolah di mana. Dengan itu, maka jadilah aku melanjutkan di SMP tersebut.
Selama mengenyam pendidikan di sana pun sesekali aku mendengar kabar 2 teman yang melanjutkan di pesantrennya. Pernah suatu ketika aku berbincang dengannya melalui telfon dan pernah juga langsung bertemu dengan anaknya. Meski tidak ada alur perbincanngan yang pasti, namun dari situ aku mengerti akan keadaan pesantren yang menurut pikiranku serba membosankan itu. Temanku menuturkan bahwa menjadi santri itu menyenangkan. Dia pun cerita perihal teman-temannya, ustadz-ustadznya, prestasi-prestasi yang didapatnya, talenta uang berbeda dengan mereka yang sekolah di non pesantren, dan lain-lain. Ketika dia liburan sekolah pun pernah aku bermain bersamanya. Dia juga pernah mengatakan, "aku ingin segera balik ke pesantren. Dalam hatiku lebih hebat lagi ini, betah sekali.
Kelas 7, kelas 8, hingga sampai aku duduk di kelas 9 tiba-tiba aku ingin masuk pesantren. Entah kenapa dengan alasan yang tidak tau juga aku ingin belajar di pesantren. Atau mungkin ada ulah do'a orang tua yang selalu mendo'akan anaknya. Oh tidak... bukan mungkin. Pasti ada ulah do'a orang tua sehingga Allah menghadirkan rasa ingin untuk masuk pesantren ini. Pada saat itu memang ada bisikan syetan yang selalu menggoda dengan menumbuhkan niat yang bathil, niatan-niatan yang menggugurkan amal seseorang.
Singkat cerita akhirnya bulatlah tekad dan niatku untuk melanjutkan pendidikan SMA di pesantren. Awalnya pesantren 2 temanku yang sudah ku ceritakan itulah yang menjadi tujuanku. Tapi salah satu darinya menyarankan agar mencari pesantren lain yang lebih bagus, (bukan berarti pesantrennya tidak bagus).
Terkumpulah sekitar 3, 4 brosur dari berbagai macam pesantren, termasuk di dalamnya Darussalam Gontor. Kenginan orang tuaku memasukanku ke gontor, namun karena biaya yang (secara nalar manusia) orang tua tidak sampai maka pupuslah kenginan kedua orang tuaku itu. Dicarilah pesantren lain yang murah dan terjangkau.
Dari brosur-brosur itu salah satunya adalah Imam Syuhodo, aku tidak pernah mengira informasi yang didapat melalui majalah suara Muhammadiyah itu mengenai pesantren Imam Syuhodo adalah pesantren yang Allah pilihkan untukku sebagai tempat menimba ilmu. Saat itu gambar yang ada tentang pesantrennya terlihat tua dan informasi terkait dengannya pun tidak begitu banyak. Namun bagaimanapun keputusannya, Allah pilihkan Imam Syuhodo sebagai tempatku menimba ilmu, keputusan Allah lebih tepat dan itu yang terbaik untuk hambaNya. Bersama teman SDku yang salah satunya alumni pesantren juga dan dia juga yang menyarankan untuk mencari informasi pesantren lain, karena dia ingin melanjutkan di jenjang SMA di lain pesasntren aku berangkat mendaftar.
Bersambung insya Allah...
________________________
Ditulis oleh: Ma'arif Sya'bani



Leave a Comment